• Jelajahi

    Copyright © KompasJateng
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Di Balik Gemerlap, Kisah Pahit-Manis Para LC Bertahan Hidup

    Senin, 20 April 2026, April 20, 2026 WIB Last Updated 2026-04-20T18:00:33Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


    Salatiga |KompasJATENG.com– Perempuan pekerja di tempat hiburan malam (THM) yang biasa dikenal sebagai LC atau Lady Companion kerap dipandang identik dengan sosok cantik, seksi, ceria, dan enerjik. Tugas mereka pun tak lepas dari menemani pelanggan, memandu karaoke, hingga menciptakan suasana menyenangkan agar tamu betah berlama-lama.


    Namun di balik tawa, senyuman, dan keceriaan yang ditampilkan, tersimpan cerita kehidupan yang tak banyak diketahui orang.


    Salah satunya diungkapkan Lala (23), seorang LC di salah satu THM di Kota Salatiga. Ia mengaku setiap hari harus tampil ceria seolah tidak memiliki masalah, meski kenyataannya tidak selalu demikian.


    “Setiap kerja harus senyum, harus terlihat senang. Padahal di balik itu, banyak juga yang menjalani ini karena tuntutan ekonomi,” ujar Lala, Selasa (21/4/2026) dini hari.


    Menurutnya, tidak sedikit perempuan yang terjun ke dunia tersebut karena menjadi tulang punggung keluarga atau karena keterbatasan pilihan pekerjaan. Meski awalnya merasa canggung, Lala mengaku seiring waktu mulai terbiasa dan mampu menikmati pekerjaannya.


    Ia juga menyebut, penghasilan sebagai LC bisa cukup menjanjikan, terutama jika bertemu dengan pelanggan yang dermawan.


    “Kadang cuma menemani dua sampai tiga jam, bisa dapat saweran sekitar Rp100 ribu. Itu belum termasuk gaji harian,” ungkapnya.


    Meski demikian, pekerjaan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Lala mengaku menghadapi tantangan ketika bertemu pelanggan yang bersikap kasar.


    “Kalau tamu baik, kerja juga enak. Tapi kalau kasar, itu yang bikin berat,” katanya.


    Selain tekanan saat bekerja, stigma masyarakat juga menjadi beban tersendiri. Di lingkungan tempat tinggalnya, profesi LC masih sering dipandang negatif dan kerap disamakan dengan pekerja prostitusi.


    Padahal, menurut Lala, tidak semua LC terlibat dalam praktik tersebut. Banyak di antara mereka yang hanya menjalankan peran sebagai pemandu lagu dan teman berbincang.


    “Kita tetap manusia biasa, punya harga diri dan keluarga. Hanya saja keadaan yang membawa kami ke sini,” tambahnya.


    Cerita serupa juga disampaikan Mela (22), yang telah barusan bekerja sebagai LC. Ia mengaku penghasilan yang didapat cukup besar dan membuatnya cepat dikenal sebagai pemandu lagu favorit.


    Selama menjalani profesinya, Mela berpegang pada prinsip untuk tetap bekerja secara profesional dan menjaga batasan diri. Ia juga merasa mendapat banyak pengalaman berharga dari interaksi dengan berbagai karakter pelanggan.


    “Aku jadi lebih cepat membaca sifat orang, tahu mana yang tulus dan mana yang hanya sekadar main-main,” ujarnya.


    Menurutnya, kehidupan sebagai LC ibarat dua sisi mata pisau. Di satu sisi menawarkan penghasilan yang menggiurkan, namun di sisi lain menyimpan tekanan mental, fisik, serta stigma sosial yang tidak ringan.


    Bagi sebagian perempuan, menjadi LC bukan sekadar pilihan, melainkan jalan bertahan hidup di tengah keterbatasan.


    Di balik gemerlap lampu dan riuhnya musik THM, tersimpan kisah perjuangan perempuan-perempuan yang berusaha tetap tegar menjalani realitas hidupnya.(Dohan)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini